Senin, 11 Februari 2013

Cinta di Seikat Kata Sandi #part2

“Permisi,” izin Kian.
“Iya,” jawab seorang wanita dari dalam rumah. Decit pintu terbuka.
“Ini saya mengantarkan kue, Bu,” ucap Kian.
“Terima kasih ya, Mas Kian,” ucap wanita paruh baya itu ramah sambil mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Terima kasih, Bu,” jawab Kian sebelum berlalu.
Sudah menjadi kegiatan rutin setiap hari untuk Kian dan Reni mengantarkan kue pesanan ke rumah Deni. Begitu pula dengan Deni. Sudah menjadi kegiatan rutin untuk Deni berada di balik jendela setiap sore menjelang kedatangan Reni dan Kian untuk mengantarkan kue, serta menjadi pemerhati Reni dari jauh.
Ketika Reni datang dan mengetuk pintu kayu rumahnya, ada rasa damai dalam pikirannya. Ada yang luruh dalam palung hatinya. Ia tak tau itu apa. Namun, ketika Reni tak datang, ada kecewa yang mendalam di hatinya. Hatinya mengering layaknya gurun pasir yang tanpa air.
Seperti saat ini, hanya Kian yang datang mengantarkan kue ke rumahnya. Ia yang melihat kedatangan Kian dari balik jendela beringsut perlahan sambil menundukkan kepalanya. Ada kecewa dan sedih yang mendalam menggelayut di pikirannya. Ia pun kemudian meraih krayon hitam dan menggores-goreskannya di atas kertas A3 di hadapannya. Melukiskan abstraksi hatinya yang berduka.

Cinta di Seikat Kata Sandi #part1

Gadis itu duduk sendiri menantang dunianya yang remang. Sesekali kakinya bergoyang ditimang angin yang menerobos kaki kursi. Jemarinya yang pucat tengah menekuni berderet-deret huruf braille.
Sesekali ia berekspresi, tersenyum. Namun baginya tetap saja semua hanya hitam. Bagaikan suatu negeri yang selalu malam tanpa bulan, bintang, api apalagi nyala listrik.
Namanya Reni. Reni Sawitri. Gadis sembilan belas tahun dengan tuna netra yang disandangnya sejak lahir. Ia tak pernah mengenal setetes pun terangnya dunia.
Lima tahun yang lalu, ia sempat berfikir untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri hidupnya yang gelap tanpa cahaya.
“Hei! Apa kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan, hah?” maki Kian, kakak laki-laki semata wayangnya, sambil menyingkirkan pisau yang nyaris memotong nadi adik kesayangannya.
“Aku sudah bosan, Mas! Aku nggak berguna!” teriak Reni. Tangannya bergetar. Suaranya tertahan.
“Siapa bilang kamu nggak berguna?” ucap Kian lagi.
“Apa Mas pikir aku nggak punya perasaan? Empat belas tahun aku nggak bisa apa-apa. Semuanya hanya hitam! Hitam! Aku nggak tau seperti apa dunia yang sebenarnya. Duniaku tak terlihat, Mas,” jawab Reni. Pundaknya bergoncang, air matanya menetes.
Kian merengkuh adiknya. Dalam dekapannya ia berbisik tepat di telinga Reni, “Ren, nggak semua orang bisa melakukan segala hal. Ada masanya ia juga akan menempati titik kelemahannya. Tapi dari situ, mereka dapat lebih mengerti bahwa kuasa Allah lebih indah dari segalanya. Begitu juga dengan kamu. Menempati titik kelemahan bukanlah akhir. Tapi itu sebuah awal yang berupa cobaan, karena Allah sayang sama kamu. Karena Allah tau kamu bisa ngadepin semua ini dengan baik.”

Selasa, 16 Oktober 2012

Princess, please don't sleep again!


Tiga bulan yang lalu gue diterima di STT RRI (School of Telecommunication Technology and Multimedia Radio Republik Indonesia) di program studi Graphic Design and Web Development. Untuk tiga bulan pertama semua maba harus mengikuti matakuliah wajib. Selama matakuliah wajib ini, gue digabungin sama kelas Profesional 1. Yaa.. Semacam kelas yang anak-anaknya suka rame gitu deh.. #ehh
Naahhh.. Dimatakuliah ini ada kelas English Drama alias drama pake Bahasa Inggris. English drama di sini dilombain antarkelas. Mulai dari Akselerasi 1 – 9, sampai Profesional 1 – 17. Untuk tugas yang satu ini, kelas gue sepakat buat bikin drama ala-ala Sleeping Beauty yang romantis nan so sweet gitu. Ehh.. Tapi malah melenceng jauh banget bagaikan butiran debu dengan batako.
Sebelum gue ceritain alur dari drama kelas gue yang berjudul “Princess Sleeping Forever” ini, gue kenalin dulu karakter-karakternya ya..

Meng-COREL DRAW-kan Hati


Selama gue ngikutin matakulih wajib, gue jadi inget pas pertama masuk SMK. Gue diajarin langkah-langkah awal dalam mengenal desain pakai Corel Draw. Begitu juga dengan dosen gue yang super duper keren – Mr. Murtoyo. Beliau ngajarin langkah-langkah kenal desain bagi pemula dengan sangat mantep!
Tanpa pernah tak bersemangat, gue ngikutin langkah-langkah itu dengan seksama setiap minggunya. Inilah yang gue serap dari pelajaran desain di kelas gue:
1.     Simple Objects
Pada pertemuan pertama pagi itu gue dan temen-temen sekelas yang masih campuran dari berbagai prodi ini dibuat tercengang-cengang atas kehadiran sesosok monyet di layar LCD. Why to be like that? Karena dosen gue yang ajaib ini membuatnya hanya dengan menggabungkan lingkaran-lingkaran. Fantastic! Itulah yang ada dalam fikiran kami saat itu.
Beliau memperkenalkan kami dengan tools sederhana yang ada di Corel Draw dan juga fungsi masing-masing. Disini praktik secara langsung pun juga dilakukan. Gue masih inget apa yang dicontohin dulu: sebuah taman wisata dengan mobil, awan, pohon, pagar yang semuanya dibuat dari shape-shape sederhana (rectangle and ellipse) dan juga pemainan warna-warna yang ada di palet.
Dalam pelajaran hari itu, beliau memberikan tugas untuk membuat objek-objek sederhana minimal 3 buah. Inilah hasil karya gue:


Komik Hati


Judul                     : Komik Hati
Penulis                  : Delfi A. Halim
Tahun                    : April 2008
Penerbit                : Gagas Media
Tebal                    : 176 halaman



Gue udah baca novel ini 6 kali, tapi heran, kok nggak ada bosen-bosennya ya? Awalnya gue minjem dari sahabat gue pas SMP, terus pas lagi jalan-jalan ke bazaar buku, gue nemu novel ini dan gue beli. Walhasil, gue kecanduan baca ini novel. Dampak berikutnya adalah pas gue masuk kuliah dan cari kost-an, gue kebayang-bayang kisah seru di novel ini. Tapi gue nge-kost-nya di kost-an khusus cewek.
Pas gue bawa novel ini ke kost-an (setelah temen-temen kost gue pada minjem), nih novel jadi trending topic di meja makan. Kami cerita ngalor-ngidul tentang adegan-adegan konyol novel ini. Ehh giliran gue baca novel ini (lagi!) di kampus, beberapa orang nanya, “Komik. Tapi kok tulisan semua gini?”. Aduh alamak! Ini novel, judulnya aja yang komik hati.   (_ _!!)
Novel ini bisa buat gue ngakak total. Gimana nggak? Adaaaa aja yang dilakuin Ardi dkk yang emang nggak waras itu. Mulai dari jadi pocong sampai jadi bencong. Dan dari semua itu, mereka selalu ketiban sial. – hahaha.. rasain lu.. :p
Pas baca bagian kesan pertama Ardi ketemu Astrid, gue ngerasa gimanaaa gitu. Kayak ada cemburu dejavu. Apalagi pas si Astrid bela-belain nangis gara-gara poster black goblin ke lima (yang Naomi bawa bunga mawar) mau dirobek mamanya. Jadi ya gue ikutan deg-degan sendiri nggak jelas gitu deh.
Udah ahh.. Yuk kemon baca resensi gue tentang nih novel!

Senin, 15 Oktober 2012

Inauguration Night of Professional 1


Sehari sebelum gue pulang kota nih (kan rumah gue Kota Kediri, bukan Kampung Kediri. hehehe..) tepatnya Sabtu tanggal 6 kemarin, dosen fotografi gue ngajakin anak-anak kelas gue buat hangout bareng. Hari itu kami janjian di Krida Budaya – Malang buat ngumpul jam 5 sore. Ehh ndilalah hujan. Akhirnya rencana pun kepentok hujan.
Dengan galaunya gue nunggu si Kholik, temen sekelas gue buat jemput. Maklum, kan gue nggak bawa motor, jadi nebeng ke temen gue. Udah gitu ditelponin pula sama Fita (temen sekelas gue juga) dan Wahyu (ketua kelas gue) yang buat gue bingung. Walhasil, pas gue nengok ke pagar, ada 2 orang yang jemput gue di kost-an.
Kami hangout di House of Juminten. Begitu sampai di sana, langsung pesen makanan. Sambil nunggu tuh pesenan dateng, diisi dengan ketawa-ketawa, nyanyi-nyayi, dan main UNO. Di sela-sela itu, gue selaku salah satu panitia malam penobatan yang nggak jelas ini ngebacain kategori-kategori dan juaranya yang diambil dari polling sms pilihan pemirsa voting anak-anak kelas gue.
Ini dia kategori-kategori dan juaranya:

Selasa, 24 Juli 2012

Surat Cinta untuk Tuhan


             Tiga tahun yang lalu….
“Ibuk, Ibuk mau ke mana?” tanya seorang gadis mungil yang kira-kira berusia enam tahun. Matanya tak berhenti menatap wajah ibunya yang di make-up. Tangan kecilnya memainkan jari-jarinya, mengkaitkan kedua telunjuknya, lalu melepaskannya lagi.
“Ibuk mau kerja, Nduk. Kamu di rumah nggak boleh nakal ya?” jawab ibunya lembut.
“Wulan ikut ya, Buk? Wulan janji nggak akan nakal, Wulan nggak akan ganggu Ibuk,” rengek gadis kecil itu. Matanya menyorot penuh harap pada ibunya.
“Wis to, Nduk, cah ayu. Kamu di rumah ae yo, Nduk,” ucapnya seraya menutup lipstick merah yang baru saja dipakainya.
“Wulan ikut, Wulan ikut,” rengeknya manja. Air matanya menetes satu.
Ibunya mengelus lembut rambut anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Kemudian menggendongnya. “Wulan, kamu nggak boleh kayak gitu. Ibuk kerja buat makan Wulan sama ibuk juga. Wulan nggak boleh nakal,” tuturnya dengan setengah berbisik tepat di telinga Wulan. Sekali lagi air mata Wulan menetes. Ia meronta ingin turun. Ibunya menuruti.
“Wis yo, Nduk. Ibuk berangkat dulu,” pamit ibunya dengan hati-hati. Wulan mencium punggung tangan ibunya.
“Daaa-daaah, Ibuk,” ucapnya sembari melambaikan tangannya di udara. Matanya masih menatap ibunya yang berjalan menjauh dari rumahnya. Pintu rumah pun ia tutup kala ibunya sudah tak terlihat ketika sudah berbelok di ujung gang.
Jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Fajar yang menyingsing masih sebagian. Ibu Wulan berjalan sedikit gontai. Wajahnya di poles cantik nan rupawan. Baju transparannya bermotif biru muda dari benang dan manik-manik kecil yang mengilat saat ditempa cahaya. Kain batiknya menutupi hingga mata kaki. Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki membuatnya sesekali meringis kesakitan kala menginjak batu yang tajam.
***