“Permisi,” izin Kian.
“Iya,” jawab seorang wanita dari dalam rumah. Decit pintu
terbuka.
“Ini saya mengantarkan kue, Bu,” ucap Kian.
“Terima kasih ya, Mas Kian,” ucap wanita paruh baya itu
ramah sambil mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Terima kasih, Bu,” jawab Kian sebelum berlalu.
Sudah menjadi kegiatan rutin setiap hari untuk Kian dan
Reni mengantarkan kue pesanan ke rumah Deni. Begitu pula dengan Deni. Sudah
menjadi kegiatan rutin untuk Deni berada di balik jendela setiap sore menjelang
kedatangan Reni dan Kian untuk mengantarkan kue, serta menjadi pemerhati Reni
dari jauh.
Ketika Reni datang dan mengetuk pintu kayu rumahnya, ada
rasa damai dalam pikirannya. Ada yang luruh dalam palung hatinya. Ia tak tau
itu apa. Namun, ketika Reni tak datang, ada kecewa yang mendalam di hatinya.
Hatinya mengering layaknya gurun pasir yang tanpa air.
Seperti saat ini, hanya Kian yang datang mengantarkan kue
ke rumahnya. Ia yang melihat kedatangan Kian dari balik jendela beringsut
perlahan sambil menundukkan kepalanya. Ada kecewa dan sedih yang mendalam
menggelayut di pikirannya. Ia pun kemudian meraih krayon hitam dan
menggores-goreskannya di atas kertas A3 di hadapannya. Melukiskan abstraksi
hatinya yang berduka.


