”Hai, Sa,” tegur seorang cowok hitam manis dari arah berlawanan dengannya. Dissa menurunkan lagi sesendok mie ayam yang hendak disantapnya. Sedangkan Tita dan Kea menoleh ke sumber suara. ”Hai juga, Tita dan Kea. Boleh gue gabung di sini?” lanjutnya seraya berdiri di samping meja menunggu jawaban. Senyum tersungging di wajahnya. Sangat manis. Bahkan lebih manis dari gula sekalipun.”Hai juga, Yo. Duduk aja lagi,” jawab Dissa sambil membalas senyum cowok itu. Theo duduk di samping Dissa.
”Eh, Theo, lo kapan tanding basket lagi? Si Tita ngebet banget pengen lihat tuh. Katanya sih pengen lihat si Rio main,” goda Kea pada Tita.
”Apaan sih lo, Ke. Ngaco aja lo,” sergah Tita cepat.
”Minggu depan tim gue main lawan sekolah sebelah. Lo dateng aja. Pasti deh ketemu Rio,” Theo ikut menggoda Tita.
”Minggu depan tim gue main lawan sekolah sebelah. Lo dateng aja. Pasti deh ketemu Rio,” Theo ikut menggoda Tita.
“Ah, ngaco juga lo, Yo. Ketularan Kea deh lo,” jawab Tita sambil manyun.
“Lhoh. Kok marah sih tuan putri? Kalok marah-marah brarti bener tuh,” celetuk Kea.



