Sabtu, 23 Februari 2013


Tuhan,
Jika cerita cinta ini terlalu salah untukku
Ku harap Engkau membenarkannya
Hingga menjadi sebuah kisah istimewa
Untukku dan untuknya
Tuhan,
Jika cerita cinta ini terlalu sukar untuk ku petik
Ku harap Engkau memudahkannya
Agar aku bisa merangkainya
Menjadi rangkaian indah dalam sepenggal cerita kehidupanku
Tuhan,
Jika cerita cinta ini terlalu jauh untukku
Aku selalu berharap Engkau mendekatkannya
Untuk menyatukan puing-puing hatiku yang telah terpotong
Seperti kepingan puzzle yang terbengkalai
Tuhan,
Juka cerita cinta ini terlalu tinggi untuk ku raih
Perkenankanlah aku untuk menjangkaunya
Mengumpulkannya
Layaknya aku mengumpulkan bintang di langit
Tuhan,
Jika cerita cinta ini terlalu abu-abu untukku
Aku selalu berharap ia akan menjadi putih atas kehendak-Mu
Agar tak ada lagi ragu-ragu dan mendung yang menyelimutinya
Namun,
Jika memang bukan dia
Aku akan selalu menantinya
Seseorang yang telah Engkau pilih untukku
Dalam waktu yang telah Engkau janjikan


14.2.13

Senin, 11 Februari 2013

Cinta di Seikat Kata Sandi #part3


Reni duduk di ranjang kamarnya. Menatap kosong pada dinding. Beberapa kali ia tersenyum mengingat kejadian sore tadi. Ia sibuk menerka-nerka, seperti apakah Deni sebenarnya? Mengapa ia merasa nyaman berada di dekatnya?
Entahlah. Pertanyaan itu hanya berputar-putar di otaknya dan belum menemukan jawaban. Baginya sangat sulit untuk mengisi titik-titik pertanyaan yang yang menggantung di benaknya. Hingga tiba-tiba…
“Hayooo.. Ngapain senyum-senyum sendiri, Ren?” tanya Kian tiba-tiba. Mengagetkan Reni dan membuyarkan lamunannya.
“He?” Reni terbata-bata. “Mmm.. Anu.. Eh, nggak kenapa-kenapa, Mas,” jawab Reni gelagapan.
“Aduh, adik Mas ini ternyata udah gede ya..” goda Kian.
“Apaan sih, Mas?” Reni tersipu.
“Apaan-apaan. Jujur aja deh.. Kenapa senyum-senyum?” goda Kian lagi.
“Ihh, Mas Kian, dibilangin nggak kenapa-kenapa juga,” jawab Reni sambil manyun.
“Hmm.. Bohong yaaa?” Kian masih belum puas menggoba adiknya.

Cinta di Seikat Kata Sandi #part2

“Permisi,” izin Kian.
“Iya,” jawab seorang wanita dari dalam rumah. Decit pintu terbuka.
“Ini saya mengantarkan kue, Bu,” ucap Kian.
“Terima kasih ya, Mas Kian,” ucap wanita paruh baya itu ramah sambil mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Terima kasih, Bu,” jawab Kian sebelum berlalu.
Sudah menjadi kegiatan rutin setiap hari untuk Kian dan Reni mengantarkan kue pesanan ke rumah Deni. Begitu pula dengan Deni. Sudah menjadi kegiatan rutin untuk Deni berada di balik jendela setiap sore menjelang kedatangan Reni dan Kian untuk mengantarkan kue, serta menjadi pemerhati Reni dari jauh.
Ketika Reni datang dan mengetuk pintu kayu rumahnya, ada rasa damai dalam pikirannya. Ada yang luruh dalam palung hatinya. Ia tak tau itu apa. Namun, ketika Reni tak datang, ada kecewa yang mendalam di hatinya. Hatinya mengering layaknya gurun pasir yang tanpa air.
Seperti saat ini, hanya Kian yang datang mengantarkan kue ke rumahnya. Ia yang melihat kedatangan Kian dari balik jendela beringsut perlahan sambil menundukkan kepalanya. Ada kecewa dan sedih yang mendalam menggelayut di pikirannya. Ia pun kemudian meraih krayon hitam dan menggores-goreskannya di atas kertas A3 di hadapannya. Melukiskan abstraksi hatinya yang berduka.

Cinta di Seikat Kata Sandi #part1

Gadis itu duduk sendiri menantang dunianya yang remang. Sesekali kakinya bergoyang ditimang angin yang menerobos kaki kursi. Jemarinya yang pucat tengah menekuni berderet-deret huruf braille.
Sesekali ia berekspresi, tersenyum. Namun baginya tetap saja semua hanya hitam. Bagaikan suatu negeri yang selalu malam tanpa bulan, bintang, api apalagi nyala listrik.
Namanya Reni. Reni Sawitri. Gadis sembilan belas tahun dengan tuna netra yang disandangnya sejak lahir. Ia tak pernah mengenal setetes pun terangnya dunia.
Lima tahun yang lalu, ia sempat berfikir untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri hidupnya yang gelap tanpa cahaya.
“Hei! Apa kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan, hah?” maki Kian, kakak laki-laki semata wayangnya, sambil menyingkirkan pisau yang nyaris memotong nadi adik kesayangannya.
“Aku sudah bosan, Mas! Aku nggak berguna!” teriak Reni. Tangannya bergetar. Suaranya tertahan.
“Siapa bilang kamu nggak berguna?” ucap Kian lagi.
“Apa Mas pikir aku nggak punya perasaan? Empat belas tahun aku nggak bisa apa-apa. Semuanya hanya hitam! Hitam! Aku nggak tau seperti apa dunia yang sebenarnya. Duniaku tak terlihat, Mas,” jawab Reni. Pundaknya bergoncang, air matanya menetes.
Kian merengkuh adiknya. Dalam dekapannya ia berbisik tepat di telinga Reni, “Ren, nggak semua orang bisa melakukan segala hal. Ada masanya ia juga akan menempati titik kelemahannya. Tapi dari situ, mereka dapat lebih mengerti bahwa kuasa Allah lebih indah dari segalanya. Begitu juga dengan kamu. Menempati titik kelemahan bukanlah akhir. Tapi itu sebuah awal yang berupa cobaan, karena Allah sayang sama kamu. Karena Allah tau kamu bisa ngadepin semua ini dengan baik.”